Namun, sejarah menyediakan pula jalan lain yang jauh lebih berliku. Anwar Ibrahim, contohnya. Tentu saja latar belakang Anwar dan Purbaya berbeda secara mendasar. Anwar sejak muda adalah aktivis dan kemudian politikus. Purbaya tumbuh sebagai profesional, ekonom, peneliti, dan teknokrat. Tetapi perjalanan Anwar menunjukkan satu hal: kehilangan jabatan tidak selalu menjadi akhir sebuah perjalanan publik.

Anwar pernah menjadi Menteri Keuangan Malaysia dan kemudian Wakil Perdana Menteri. Ia berada sangat dekat dengan Mahathir Mohamad dan lama dipandang sebagai salah satu figur penting dalam suksesi kepemimpinan Malaysia. Namun, pada 2 September 1998, perjalanan itu patah. Anwar diberhentikan dari pemerintahan. Sesudahnya ia ditangkap, dipenjara, menjalani pertarungan politik panjang, kembali ke parlemen, memimpin oposisi, dan mengalami pasang-surut politik selama lebih dari dua dekade. Pada 24 November 2022-24 tahun setelah kejatuhannya-Anwar Ibrahim akhirnya dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia.

Sekali lagi, Purbaya bukan Anwar. Tidak ada alasan untuk menduga Purbaya akan mengikuti jalur politik yang sama. Rekam jejaknya sejauh ini menunjukkan jalan seorang teknokrat, bukan politikus elektoral. Tetapi kisah Anwar memberi perspektif tentang betapa panjangnya kehidupan publik seseorang setelah sebuah jabatan hilang.

Purbaya juga tak harus seperti Sri Mulyani. Sangat mungkin ia menemukan jalannya sendiri. Ia tidak perlu buru-buru mencari jabatan baru hanya untuk membuktikan bahwa kariernya belum selesai. Ia juga tidak harus masuk politik hanya karena pintu kabinet tertutup.

Untuk sementara waktu, Purbaya memang perlu memancing dulu. Bukan sekadar ikan nila atau mujair di belakang rumah, tetapi juga memancing gagasan tentang ke mana jalan hidup berikutnya akan membawanya.