Dalam wawancara dengan NBC pada Minggu (18/10), Zelenskyy mengatakan akses terhadap informasi intelijen sempat diblokir selama beberapa waktu. Tak lama kemudian, akses tersebut kembali dibuka. Ia menyampaikan apresiasi atas pemulihan tersebut.
Namun, saat berbicara kepada wartawan di Uzbekistan pada Senin, Rubio menegaskan bahwa pertukaran intelijen tidak pernah terhenti.
"Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi ini atau mengapa dia menyampaikan hal-hal seperti ini kepada pers. Tidak ada penghentian," kata Rubio. Ia menambahkan bahwa Zelenskyy seharusnya berfokus pada upaya mengakhiri perang.
Dinamika ini merupakan perkembangan hubungan teranyar antara AS dan Ukraina yang memburuk.
Sebelumnya, Zelenskyy sempat menduga bahwa pemerintah AS berada di balik pembatasan penggunaan Starshield, teknologi komunikasi berbasis satelit dari SpaceX yang berperan penting dalam pertahanan Ukraina terhadap drone dan rudal Rusia. Pejabat AS turut membantah tuduhan tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington masih berbagi informasi intelijen dengan Ukraina. Namun, sejumlah pejabat Ukraina melaporkan serangan Rusia terjadi tanpa peringatan. Karenanya, muncul pertanyaan mengenai apakah pertukaran intelijen mereka "baik-baik saja".
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan. Agendanya adalah untuk merundingkan penyelesaian perang Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun. Usulan tersebut dilaporkan Wall Street Journal pada Minggu (18/10). Menurut laporan sejumlah pihak, kesepakatan yang dibahas berpotensi menguntungkan Moskow.