Namun Sara menyoroti adanya perbedaan kondisi demografi antara Indonesia dan negara-negara maju yang menjadi pengembang teknologi AI. Menurutnya, sejumlah negara maju mengembangkan teknologi tersebut untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja.
"Hanya memang saat ini kita melihat tantangan dunia yang sangat nyata, yang di mana kita berhadapan misalnya dengan AI, misalnya dengan kemajuan teknologi dari negara-negara yang tidak memiliki bonus demografi," jelas Sara.
"Mereka datang dari negara-negara yang memiliki lebih banyak lapangan pekerjaan dari pada manusianya. Sehingga mereka harus mengembangkan teknologi yang bisa mengisi kekosongan itu," lanjut dia.
Menurutnya, jika teknologi AI diadopsi secara mentah akan membuat surplus tenaga kerja. Sebab itu, penggunaan AI akan menjadi masalah besar.
"Kalau kita menggunakan teknologi itu di Indonesia, yang di mana kita punya memiliki lebih banyak manusia daripada lapangan pekerjaan, tentunya akan terjadi permasalahan yang besar," imbuh Sara.