Kedua, QS Hud ayat 61 yang berbunyi: Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, 'Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya)'.

Menurut Kiai Miftachul, ayat ini mengandung makna Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk mengelola segala kekayaan di bumi untuk mencapai kesejahteraan. Termasuk pula menghijaukan kembali bumi yang sebagian sudah gundul karena ulah manusia sendiri.

"Pemakmuran bumi ini kita mengerahkan segenap kekuatan, otak kita, pengetahuan kita, semua kita kerahkan untuk kita lahirkan kemanfaatan kemanfaatan, kemaslahatan untuk umat secara keseluruhan. Termasuk kita menghijaukan kembali sawah ladang kita, menghijaukan kembali gunung-gunung yang sudah gundul. Ini bagian dari wasta'marakum. Bahkan menjadi presiden pun, ini salah satu bentuk tugas pemakmuran bumi ini," bebernya.

"Ini sunnatullah, pemakmuran bumi ini. Karena rakyat, anak bangsa akan bisa merasakan kesejahteraan kalau ada tindakan, upaya, mengerahkan sekuat-kuatnya otak, pikirannya, bagaimana bisa menyejahterakan umat ini," jelasnya.