Hamenang menekankan ketiga strategi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah (OPD).
"Seperti yang selalu disampaikan Bapak Gubernur, tidak ada yang bisa hebat sendirian. Harus ada yang namanya super tim. Maka super tim seperti ini yang kemudian kami bangun di Kabupaten Klaten," tuturnya.
Salah satu fokus pembangunan Klaten, sambung Mas Hamenang, diarahkan pada sektor pertanian dan pariwisata yang dinilai menjadi potensi utama daerah. Pemkab Klaten juga berupaya memperkuat infrastruktur pendukung melalui konsep Jalan Alus, Padang, dan Banyu Lancar.
Mas Hamenang mengakui, keterbatasan fiskal menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan infrastruktur. Namun, melalui kolaborasi pemerintah kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat, pembangunan secara bertahap dapat terus dilakukan.
Khusus untuk program Banyu Lancar, pemerintah tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga memastikan ketersediaan air untuk mendukung sektor pertanian melalui sistem irigasi.
"Kita daerah pertanian. Kalau irigasi kita tidak baik, otomatis hasil pertaniannya juga tidak baik," ungkap Mas Hamenang.
Di sektor pertanian, jelas Mas Hamenang, sejumlah intervensi dilakukan melalui penyediaan sarana produksi pertanian, pelatihan pembuatan pupuk organik, bantuan bibit, serta pembinaan kelompok tani. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut membantu peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Klaten meskipun luas lahan pertanian terus mengalami penurunan.
Pemkab Klaten, sebut Mas Hamenang, juga memberikan perhatian terhadap pemberdayaan generasi muda melalui pengembangan potensi Karang Taruna. Salah satunya dengan memberikan insentif bagi desa yang mampu mengembangkan konsep usaha dan bisnis yang potensial.