Proses mediasi sempat digelar di sekolah. Namun, pihak korban kecewa karena orang tua dari terduga pelaku utama tersebut hanya diwakili paman dalam proses mediasi.
Korban juga kecewa karena terduga pelaku hanya diberi sanksi surat peringatan (SP). Kekecewaan bertambah karena terduga pelaku masih disertakan dalam kejuaraan olahraga yang mewakili sekolah.
"Lalu di tanggal 8 September 2026, saat kami datang ke sekolah menemui kepala sekolah untuk follow up kasus, dikatakan bahwa para pelaku hanya diberikan SP, tidak ada skorsing ataupun DO. Lalu salah satu pelaku yang ortunya tidak hadir itu juga masih dilibatkan dalam kejuaraan basket yang sama dengan korban," ungkapnya
Selain penyembuhan luka di telinga, korban juga dibawa ke psikolog untuk pemulihan trauma psikis yang dialaminya. Salah satu rekomendasi dari psikolog, korban harus dipisahkan dengan pelaku.
"Di tanggal 8 September 2026 itu juga kami memutuskan untuk mengeluarkan korban dari sekolah tersebut (tentunya atas permintaan korban juga)," ucap dia.
Pada Jumat (25/9) pihak keluarga korban dihubungi pendiri ICM melalui telepon yang menyampaikan permintaan maaf dan mengapresiasi kepedulian orang tua korban. Dia berharap orang tua pelaku utama menyampaikan permintaan maaf langsung atas kasus perundungan yang terjadi.
"Kami menyampaikan bahwa harapan kami utamanya adalah salah satu orang tua pelaku yang sebelumnya belum pernah meminta maaf secara langsung, agar dapat meminta maaf secara langsung. Namun hingga hari ini salah satu orang tua pelaku tersebut masih belum menghubungi orang tua korban," ungkapnya.
Pihak ICM buka suara soal kabar perundungan siswa yang terjadi. Pihak ICM menyatakan menghargai proses hukum yang sedang berjalan.