Rano turut mengenang sejumlah karya Guruh, termasuk lagu 'Melati Suci' dan 'Untukmu, Indonesiaku'. Dia mengatakan kedua karya tersebut menggambarkan kecintaan Guruh terhadap Indonesia.

"Dengarkan kembali 'Melati Suci'. Ada kelembutan di sana, tetapi sekaligus ada kedalaman rasa yang membuat kita seperti disentuh oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah lagu," ucapnya.

"Lalu dengarkan 'Untukmu, Indonesiaku'. Karya itu seperti sebuah sumpah cinta kepada tanah air, tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia," sambungnya.

Rano juga mengenang Guruh sebagai sosok Marhaenis yang memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil. Menurutnya, bagi Guruh, keberpihakan kepada wong cilik bukan sekadar slogan politik.

"Dalam berbagai kesempatan, Guruh memang dikenal selalu menekankan kembali ajaran Bung Karno, Pancasila, dan keberpihakan kepada rakyat. Karena itu, seni dan perjuangan politiknya dalam Mas Guruh sesungguhnya bertemu pada satu titik yang sama bernama Indonesia," jelasnya.

Rano juga menyinggung karya Guruh berupa Mars PDI Perjuangan yang menjadi bagian dari perjalanan dan tradisi partai. Lagu tersebut dinyanyikan dalam berbagai kegiatan partai.