Tegar mengatakan SDS sempat meminta bantuan untuk menaikkan kardus karena berat. Namun, saat itu ia belum menaruh curiga.

"Enggak, kalau sampai dari kosan ke jalan mah saya enggak tahu, pokoknya udah di jalan, udah siap naik gitu. Terus dia bilang, 'A, ini berat katanya, minta tolong diangkat.' Nah, kata saya teh, 'A, kan itu ada trolinya di bawahnya, A, dorong aja deketin ke mobil.' Nah dia deketin, waktu naikin kan saya belum curiga, jadi saya bantu kayak sedikit ngangkat dikit gitu buat naikin. Nah dari situ udah udah naik, udah jalan, mulai kecium bau, saya curiga," ungkapnya.

Bau tersebut menjadi awal munculnya kecurigaan Tegar. Ia kemudian kembali mendesak SDS untuk menjelaskan isi kardus. Namun, jawaban SDS tidak berubah. Ia menyebut kardus itu berisi besi dan baju.

Tegar yang semakin curiga kemudian meminta kardus tersebut dibuka. SDS justru melarangnya.

"Saya makin curiga, saya tanya, saya pastikan lagi bahwa si barang ini apa dalamnya? Dia jawab, 'Ini dalamnya besi sama baju.' Saya masih curiga, saya tanya lagi, "Ini apa?" dia tetap jawabnya gitu. Terus saya bilang, "Kalau emang itu, gimana kalau kita buka?" Nah, dia bilang, "Jangan jangan jangan," dia kayak menolak itulah. Nah di situ saya semakin curiga, saya mulai takut juga, mulai panik juga kan tahu semakin yakin bahwa itu apa," ungkap Tegar.