Namun, air waduk mencapai kapasitas maksimum (level pelimpah) untuk pertama kalinya. Kebocoran baru berdebit makin besar mulai terpantau.
Pada 12 Maret 1928, penjaga bendungan menemukan kebocoran air keruh berdebit sekitar 75 liter/detik. Seorang insinyur dan asistennya datang memeriksa, namun menyimpulkan kebocoran tersebut berasal dari erosi permukaan dan belum berbahaya.
Bencana pun tiba. Dua menit sebelum tengah malam, Bendungan St Francis runtuh total.
Sekitar 47 juta meter kubik air tumpah melintasi lembah, membentuk gelombang banjir setinggi 40 meter dengan kecepatan hampir 30 km/jam. Gelombang banjir menghancurkan kota kecil Castai.