Acara ini digelar berdasarkan kerja sama Autograph Tower, RS Jakarta dan Dispora DKI Jakarta. Pihak RS Jakarta yang hadir pada simulasi kedua ini menyatakan dukungan penuh.
"Kami siapkan lima ambulance, lima tim dokter, ada tim perawat juga fisiotherapist. Terlebih karena ada kegiatan menaiki anak tangga jadi pastinya yang kita harus antisipasi, harus lihat yang paling banyak itu cedera olahraga. Bisa cedera tegang kaki, cedera lutut itu yang paling utama yang harus jadi perhatian," jelas dr. Adrian Tarigan dari RS Jakarta.
Selain memperkenalkan olahraga vertical running atau lari vertikal kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan teknis menuju penyelenggaraan Jakarta Vertical Run pada November 2026. Panitia memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji sistem pelepasan peserta atau wave start yang akan diterapkan saat perlombaan utama.
Pada gelombang pertama yang diikuti atlet elite dan gelombang kedua untuk pelari umum, peserta dilepas satu per satu dengan interval 15 detik. Sementara itu, gelombang ketiga dan keempat menggunakan interval lima detik untuk setiap peserta.
Panitia juga menempatkan petugas atau marshal di setiap lima lantai sepanjang rute tangga. Langkah ini dilakukan untuk membantu pengawasan peserta sekaligus mendukung kelancaran dan keselamatan selama perlombaan. Salah satu catatan menarik dari simulasi tersebut adalah keberhasilan peserta tercepat menyelesaikan pendakian hingga 26 lantai hanya dalam waktu empat menit.
Salah satu peserta yang sukses menaklukkan 26 lantai dalam empat menit adalah Attila Daffa Yaghi. Butuh persiapan ekstra untuk bisa menaklukkan Jakarta Vertical Run.