NADIKABAR.COM — Dari perdagangan saham terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,47% ke level 6.636,48 pada Jumat (4/9). Saham Sinergi Inti Andalan Prima (NATO) menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar, yakni 24,63%. Pergerakan positif juga dicatatkan oleh IMPC yang naik 6,76% dan TINS sebesar 8,07%.

Sebaliknya, sejumlah saham berkapitalisasi besar berada di zona merah. BBCA turun 1,11%, ASII melemah 2,97%, sedangkan BMRI terkoreksi 0,90%. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp 317,07 miliar di pasar reguler. Jika memperhitungkan seluruh pasar, posisi asing tercatat net sell Rp 29,76 miliar.

Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sebanyak 8 sektor berakhir di zona merah. Sektor Transportasi dan Logistik mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,09%. Sementara itu, sektor Energi menjadi sektor dengan penguatan terbesar, meski hanya naik 0,22%.

Pergerakan bursa Amerika Serikat juga berakhir melemah. Dow Jones turun 0,51% ke 53.414, S&P 500 terkoreksi 0,38% ke 7.718, sementara Nasdaq turun 0,29% ke 26.506. Di pasar offshore, ETF EIDO tercatat turun 1,20%, sedangkan indeks MSCI Indonesia melemah 1%.

Penyebaran abu vulkanik di wilayah Jabodetabek berpotensi meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap produk masker. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi emiten yang bergerak di sektor terkait, termasuk MEDS dan OMED.

BTPS mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp 1 triliun. Dana tersebut seluruhnya akan berasal dari ekuitas perseroan.

Dalam rencana tersebut, jumlah saham yang dapat dibeli kembali maksimal mencapai 10% dari modal ditempatkan. Angka tersebut merupakan batas maksimal sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, aksi tersebut diperkirakan membuat total aset BTPS turun dari Rp 23,30 triliun menjadi Rp 22,30 triliun. Sementara total ekuitas diproyeksikan berkurang dari Rp 10,26 triliun menjadi Rp 9,26 triliun.

Laba tahun berjalan juga diperkirakan turun dari Rp 655,49 miliar menjadi Rp 650,16 miliar akibat biaya pelaksanaan buyback. Namun, laba per saham atau EPS diproyeksikan meningkat dari Rp 85,09 menjadi Rp 94,54.

Buyback dapat dilakukan dalam jangka waktu maksimal 12 bulan sejak 14 Oktober, dengan terlebih dahulu memperoleh persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 13 Oktober.

BULL membukukan kinerja yang kuat pada semester I-2026. Laba bersih perseroan melonjak 739% secara tahunan menjadi US$58,41 juta, dibandingkan US$6,96 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.