Menurutnya, melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing dan nilai jual jauh lebih tinggi.

"Sebagai contoh, daun tanaman kering yang diekspor seharga 4 dolar AS per kilogram dapat diolah menjadi senyawa murni senilai 2.500 dolar AS per kilogram. Teknologi pengolahan dan pemurnian bahkan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bahan alam hingga 500–1.000 kali lipat, bergantung pada jenis produk," kata dia.

Riset tersebut juga, lanjut dia, menghasilkan senyawa biomarker yang sebelumnya banyak diimpor untuk kebutuhan penelitian dan industri. Produk itu kini dapat diproduksi di dalam negeri melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil riset ITB.

β€œKeberhasilan ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya dapat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga produk yang memiliki nilai komersial, memperkuat kemandirian teknologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Prof. Elfahmi.