"Inilah cara kerja yang kita ingin perlihatkan melalui UMI Conection satu akses satu data satu proses dan satu dasbor eksekutif berbasis kecepatan kecerdasan buatan," jelasnya.
Di sisi lain, Hambali menegaskan langkah transformasi yang digaungkan UMI tidak boleh berhenti hanya kepada mahasiswa. Namun, kata dia, kampus harus terus melakukan pembenahan dan saat ini upaya tersebut telah dibuktikan.
"UMI juga sedang berusaha melakukan pembenahan, kita tidak boleh hanya meminta mahasiswa berubah. Universitas juga harus berubah dan hari ini UMI memiliki 71 program studi," tegasnya.
Saat ini ada lima program studi baru UMI yang telah dibuka. Di antaranya Pendidikan Profesi Guru Agama; Magister Kenotariatan; Doktor Teknik Kimia; Doktor Teknik Sipil; dan Magister Ilmu Biomedis. Sedangkan 4 program studi yang baru saja memperoleh akreditasi unggul, yaitu Teknik Informatika; Sistem Informasi Komunikasi; Penyiaran Islam; Pendidikan Bahasa Arab.
Hambali menjelaskan UMI saat ini terus melakukan perluasan kapasitas akademik. Semangat itu ditopang dengan 1.034 dosen dan 117 guru besar terbanyak untuk kampus swasta di Indonesia Timur.
"Artinya UMI terus berusaha memperluas kapasitas akademiknya tetapi harus menjaga kekuatan akademik itu ditopang kurang lebih 1.034 dosen dan 117 guru besar yang telah dikukuhkan dan menjadikan UMI sebagai perguruan tinggi swasta di Indonesia yang memiliki profesor terbanyak," jelasnya.
UMI juga memiliki pencapaian pada tridarma perguruan tinggi kampus seperti penelitian. Saat ini UMI memiliki 1.216 jurnal terindeks scopus hingga memperoleh biaya riset sebesar Rp 21,14 miliar.
"Dari riset kita terus bergerak, UMI memiliki 1.216 terindeks scopus dan 41 jurnal terakreditasi sinta. Total dana riset mencapai Rp 21,14 miliar. Khusus hibah Kemendiktisaintek 2026 UMI memperoleh Rp 5,7 miliar 54 judul penelitian. Mahasiswa kita juga telah menampilkan 94 rupa karya riset dan teknologi," ucapnya.