Seni ini hanya bisa kita lakukan jika kita menghidupi 'satu Firman' yaitu mengenal karakter Kristus yang penuh kasih. Seperti kata St. Hieronimus "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus", karena Kitab Suci adalah inti iman Kristiani umat Katolik dan sebagai tolok ukur norma iman dan tingkah laku moral kehidupan.

Teringat waktu anak saya berumur sekitar 11 tahun, sepulang dari bermain dia melihat saya sedang sembahyang menggunakan hio untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal. Dengan marah anak ini langsung menuduh, "Mami memuja setan ya! Mami mengundang setan!"

Saya langsung suruh dia masuk ke dalam rumah duduk dulu. Setelah menaruh hio, saya ajak dia berbicara secara empat mata, dengan tenang dan nada lembut saya bertanya, "Koko tahu, mami lahir dari siapa? Emak lahir dari siapa? Nah kalo Koko? Dari mami kan, bukan dari batu?" Sambil tertawa.

"Kalau orang yang sudah meninggal dan keluarga yang masih hidup tidak mau mendoakan mereka, kasihan kan? Mereka butuh doa kita. Saat kongco dan makco-mu masih hidup mereka berdoa kepada Tuhan Allahnya memakai hio.

Jadi mami tidak sedang mengundang setan, tapi mendoakan mereka para leluhur." Dia diam, lalu dengan suara lantang dan tenang dia bilang bahwa mulai minggu besok dia mau ikut ke Gereja maminya saja, karena sebelumnya dia sudah masuk ke Gereja tetangga.

Mari kita bawa setiap masalah baik dalam keluarga dan komunitas ke dalam terang firman Tuhan, menegur dengan empat mata dan penuh kasih.

Sumber: Buku Renungan 3 TitikOleh: Angelika Endang

Ya Yesus Sang Firman yang hidup, terima kasih atas ajaran kasih-Mu hari ini. Jadikanlah hati kami selembut hati-Mu, agar kami tidak menghakimi sesama, melainkan berani merangkul mereka dengan semangat persaudaraan.

Urapilah perkataan dan tindakan kami agar saat berbicara empat mata dengan sesama yang terpancar hanyalah kebenaran dan kasih-Mu sendiri. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Minggu, 6 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Tuhan Yesus memberkati!