Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.
Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.
Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.
Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.
Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"
Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.
Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.
Kekristenan lahir dari sebuah lanskap peradaban yang sudah maju paling tidak dalam tiga hal: Literasi dan sastra Yunani, hukum Romawi, dan kerohanian Yahudi yang militan.
Ketiga hal tersebut memiliki andil besar dalam membangun kelembagaan Gereja Katolik. Secara khusus mengenai hal yang terakhir, memang bagus bahwa orang Israel taat pada hukum Taurat.
Namun, hal itu meninggalkan sebuah pertanyaan, yakni bagaimana penghayatan keagamaan, dalam hal ini ketaatan pada hukum Tuhan, dapat dilaksanakan tanpa kehilangan semangat dasarnya, yakni kasih. Karena itu, kekristenan lahir dari sebuah dialektika praktik keagamaan yang membawa langkah maju dalam penghayatan kerohanian, juga penerapannya dalam hukum, sehingga kita mengenal semboyan: Salus animarum suprema lex atau keselamatan jiwa-jiwa merupakan hukum yang tertinggi.
Orang Israel tekun dalam melaksanakan hukum Taurat dalam hidup mereka sehari-hari. Kesucian diukur dari sejauh mana seseorang mempraktikkan hukum tersebut.