Pelaksanaan hukum bahkan mereka praktikkan secara ketat. Kasus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini mengungkap contoh persoalan di atas.
Ada seorang yang mengalami mati tangan kanannya. Hari itu adalah hari Sabat, di mana dalam ketentuan hukum Taurat, orang tidak boleh melakukan apa pun pada hari itu.
Namun, Yesus malahan menyembuhkan orang yang sakit itu. Peristiwa ini bahkan sengaja dipertontonkan di hadapan jemaat, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi.
Yesus meminta orang tersebut bangun dan berdiri di hadapan umat yang hadir dalam rumah ibadat. Ia bersabda, "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah dia.
Peristiwa itu menyulut amarah ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sehingga mereka berunding mengenai apa yang akan mereka perbuat terhadap Yesus.
Apabila kemudian Yesus wafat disalib, ini merupakan rangkaian rentetan peristiwa semacam ini.
Apa yang dilakukan Yesus menjadi permenungan mendalam bagaimana hukum Taurat mesti dipraktikkan. Melalui peristiwa ini, Yesus mengajak kita untuk melihat dimensi kasih dalam setiap peristiwa.
Dalam pengalaman saya sebagai pelayan umat, dalam melihat suatu peristiwa atau kasus, saya biasanya menimbang dari aspek hukum (kanonik), etika dan moral, serta aspek pastoral yang menekankan dimensi kasih.
Terutama dalam kasus-kasus kegagalan membangun hidup berumah tangga, pendekatan pastoral sangat membantu para pasangan untuk tidak kehilangan harapan dalam membangun masa depan mereka yang bahagia.
Pengurbanan Yesus merupakan teladan bagi untuk menghidupi kasih di atas hukum. Bagaimana kita mempraktikkannya?
Sumber: Buku Inspirasi Pagi (LBI)Oleh: Teguh Santosa SJ
Itulah renungan harian Katolik Senin, 7 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Semoga bermanfaat!