Kiai Ma'ruf mengaku tidak sakit hati ketika Setyo Budi menghina MUI Jatim dengan kata tidak pantas. Ia menyebut MUI Jatim dengan pelaku sound horeg sama halnya dengan dokter dan pasien.
"Ketika menghadapi hal yang semacam itu, sama seperti dengan dokter. Ada dokter jantung menasehati orang jangan merokok. Nah, orang yang merokok itu dia menikmati rokoknya, dia akan mencaci maki terhadap dokter. Tapi dokternya nggak boleh marah. Suatu saat bertemu dengan orang tadi, tetap dokternya harus mengobati," jelas Kiai Ma'ruf.
'Nah, saya berada di situasi seperti itu. Saya berada di situasi nggak boleh membalas kemarahan, tidak boleh membalas caciannya. Cuma kita perlu memberitahu, sama dengan dokter kalau merokok, bahayanya ini. Saya juga begitu, ini secara agama, begini, begini, begini," tambahnya.
Kiai Ma'ruf menyebut Setyo Budi ingin MUI Jatim menggunakan pendekatan ala Sunan Kalijaga dalam kaitannya fatwa sound horeg.
"Tapi intinya menurut beliau, jadi menganggap kita ini yang di MUI, saya maknai dari beliau kata-kata goblok itu, karena (MUI) tidak melakukan pendekatan persuasif. Kenapa tidak didakwahi dulu? Diajak pelan-pelan kayak Sunan Kalijaga? Kalau di Jawa Tengah, ada MUI Jawa Tengah katanya begitu," jelasnya.
"Lalu kita sampaikan bahwa dakwah itu ada tingkatan. Kalau belum ada atau masih sedikit pelanggaran, masih sedikit kemungkaran, masih bisa dengan Sunan Kalijaga dengan persuasif, bertahap, bisa. Nah, kalau di Jawa Timur, ini sudah merebak sejak sebelum pandemi. Di Malang saja pengusahanya (sound horeg) sudah 1.200 an lebih," tambahnya.
Karena pengusaha sound horeg di Jatim sudah ribuan, Kiai Ma'ruf menyebut pendekatannya tidak bisa dilakukan dengan dakwah ala Sunan Kalijaga. Apalagi, banyak pemerintahan daerah memfasilitasi sound horeg akibat kontrak politik saat Pilkada.