NADIKABAR.COM — Aktor Reza Rahadian mengatakan pengkhianatan adalah hal yang paling mematahkan hati dalam hubungan antarsesama manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari, persahabatan, maupun lingkungan kerja.
Luka dan memori akibat pengkhianatan tersebut, menurut dia, memerlukan waktu yang sangat lama untuk sembuh.
"Bahwa hal yang paling mematahkan perasaan, baik kita sebagai manusia dalam hubungan kita dengan manusia lain dalam keseharian, persahabatan, lingkungan kerja, dan lain-lain, adalah pengkhianatan," ujar Reza saat ditanyai wartawan perihal aktivis kelompok Winatra yang kelak beralih keberpihakan kepada rezim kekuasaan di acara gala perdana "Laut Bercerita" di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang yang dianggap dekat, bersahabat, serta memiliki visi perjuangan dan nilai-nilai yang sama kemudian melakukan pengkhianatan, hal itu menjadi ujian yang sangat berat bagi individu manapun.
Lebih lanjut, Reza melihat bahwa tema pengkhianatan tersebut telah diramu oleh sutradara film "Laut Bercerita" Yosep Anggi Noen agar tetap relevan dengan penonton masa kini, meski dibuat untuk merefleksikan dinamika gerakan dan perlawanan pada masa lalu, terutama di akhir era 90-an.
Baginya, keberadaan anak muda yang terus menyuarakan persoalan publik menjadi alasan untuk tetap optimistis tentang masih adanya harapan, bahkan ketika Indonesia memiliki pengkhianat dalam sejarah pergerakan mahasiswa.
“Bagi saya pribadi, selama masih ada anak-anak muda yang terus konsisten menyuarakan hal-hal penting demi kebaikan, maka di saat yang bersamaan — apa pun kondisi berat yang mungkin sedang kita hadapi hari ini dari berbagai macam aspek — kita tetap bisa yakin bahwa kita masih memiliki harapan yang baik untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik ke depan,” kata Reza.
Reza juga mengungkapkan keterlibatannya dalam proyek "Laut Bercerita" telah dimulai sejak pembuatan versi film pendek yang diproduksi untuk peluncuran novel tersebut. Proyek awal itu melibatkan Leila S. Chudori, Gita Fara, Wisnu Darmawan, dan Dian Sastrowardoyo, sebelum kisah tersebut dikembangkan menjadi film panjang.
Perjalanan itu membuat Reza dapat menyaksikan perkembangan proyek hingga akhirnya hadir dalam format film panjang. Menurut dia, kisah yang diangkat tetap relevan untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya harapan, keberanian bersikap kritis, dan peran generasi muda dalam mendorong perubahan.