Kini, kemampuan para sarjana bisa kalah saing dari kecerdasan buatan (AI) jika tidak terus dikembangkan. Karena itu, menurutnya, tantangan sarjana di era human disruption cukup berat.
"Human disruption adalah ketika teknologi mengubah apa yang bisa dilakukan oleh manusia, sekaligus mengubah persepsi, identitas, kecepatan, dan segala hal yang melekat pada manusia itu sendiri," ungkapnya.
Rhenald mengingatkan agar para lulusan tidak terkecoh oleh teknologi. Teknologi memang memudahkan, tetapi jangan sampai kehilangan fokus karena algoritma tersebut.
"Apa saja yang telah diubah oleh teknologi itu? Yang pertama adalah attention atau perhatian saudara-saudara. Hari ini sambil saudara mendengarkan para guru besar, saudara membuka ponsel saudara. Dan begitu saudara membuka ponsel saudara, saudara pun terdistraksi karena algoritma," katanya.
Rhenald kemudian mewanti-wanti sarjana agar tidak berhenti belajar. Menurutnya, meskipun seseorang punya nilai IPK sempurna tidak jadi berarti jika ia berhenti belajar.