Integrasi ini memungkinkan sumber daya mineral Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan baku industri di dalam negeri, sekaligus mengurangi kebutuhan pembelian dari pasar global.

Untuk memperkuat rantai pasok tersebut, Inalum bersama Antam terus mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan ini mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo.

Pada sisi hulu, pasokan bauksit didukung oleh satu izin usaha pertambangan (IUP) milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan enam IUP milik anak perusahaan Antam. Bijih bauksit tersebut menjadi bahan baku bagi fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), yang mengolahnya menjadi alumina untuk mendukung kebutuhan industri aluminium.

SGAR fase I saat ini telah berproduksi dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari kapasitas tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sedangkan sekitar 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.