Kehadiran fasilitas ini menjadi tahapan penting dalam membangun kemandirian pasokan bahan baku aluminium nasional. Selain mendukung kebutuhan industri domestik, kapasitas produksi yang tersedia juga membuka peluang penjualan alumina ke pasar internasional.

Pengembangan ekosistem tersebut akan dilanjutkan melalui pembangunan SGAR fase II. Menurut Arif, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan (bankable feasibility study/BFS) untuk proyek tersebut telah selesai dan akan memasuki tahap keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) dalam waktu dekat.

Ke depan, penguatan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat basis industri aluminium nasional.

Ketersediaan bahan baku di dalam negeri menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing industri pengolahan serta memperluas pemanfaatan aluminium bagi berbagai sektor mulai dari manufaktur kendaraan EV, konstruksi, transportasi dan kelistrikan.