Apalagi saat ini, katanya lagi, instabilitas keamanan kawasan menjadikan indikator utama berjalannya sektor andalan wilayah Teluk yang saat ini sedang berupaya mendiversifikasi sektor nonmigasnya.

Pengamat Ekonomi Syariah dari Universitas Paramadina itu menyatakan isu ketidakamanan dan penutupan ruang udara maupun laut di wilayah Teluk menjadi bukti ketegangan konflik yang belum dapat diselesaikan dengan baik.

Dalam sektor pariwisata, ujarnya lagi, penutupan ruang udara di wilayah Teluk berpotensi menghilangkan pendapatan belanja wisatawan internasional sebesar 58 miliar dolar Amerika Serikat (AS), selain itu, proyek-proyek strategis dalam sektor properti dan digital yang sedang berlangsung di wilayah Teluk seperti Dubai dan Doha, terancam mandek.

"Tidak ada upaya konkret dari pemimpin negara di wilayah Teluk untuk menyelesaikan konflik ini. Pastinya ini membuat investor tidak lagi percaya untuk berinvestasi di Teluk," katanya menegaskan.