NADIKABAR.COM — Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 mendatang. Ambisi besar ini memunculkan pertanyaan apakah target tersebut memungkinkan untuk dilakukan.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institut for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, mengatakan target pembangunan PLTS hingga 100 GWp itu dapat tercapai atau tidak sangat tergantung pada bagaimana pemerintah menjalankan proyek tersebut.
"PLTS 100 GWp itu masuk akal atau tidak? Yang bikin masuk akal atau tidak itu adalah eksekusi dari kebijakannya," kata Deon dalam Media Briefing yang digelar IESR, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
Dalam hal ini, Deon menegaskan untuk mempercepat pemasangan PLTS hingga kapasitas setinggi itu dalam dua tahun (dari 2027-2029), pemerintah harus mendorong penurunan rata-rata harga pemasangan PLTS secara nasional yang tercermin dari harga listrik hasil pembangkit tersebut.
Di mana saat ini menurutnya harga listrik yang dihasilkan PLTS di Indonesia rata-rata masih dari kisaran US$ 5-10 sen per kWh. Sementara di negara tetangga seperti Vietnam atau negara lain sudah di kisaran US$ 3,5-5 sen per kWh.