Fikri menilai hasil pemeringkatan tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonominya. Ia berharap data DTSEN dapat diperbarui agar sesuai dengan keadaan masyarakat sebenarnya.

"Kalau saya punya 2 mobil, 10 motor, rumah di BTN mewah, gaji dua digit, nah itu cocok jadi desil 10. Kenyataanya motor satu, rumah masih ngontrak," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Nabila yang juga tercatat dalam desil 10. Ia mengaku masih tinggal di kos-kosan bersama suami dan baru memiliki satu sepeda motor. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan penghasilan suami.

"Kami masih tinggal di kos, motor cuma satu. Penghasilan suami UMK di sini. Kami sederhana lah, tapi kok bisa masuk desil 10," keluhnya.