"Ijazah yang akan kalian terima adalah surat tugas pengabdian yang lebih besar dari yang sudah Anda lalui di ITB ini," ujar Brian.

Ia menekankan pentingnya peran lulusan ITB di tengah momentum bonus demografi Indonesia. "Indonesia berada dalam fase paling menentukan, jumlah penduduk usia produktif paling besar. Hampir setiap negara berhasil melalui lompatan maju di periode seperti itu," katanya.

Empat poin penting yang dititipkan Brian adalah grit (kegigihan), persistence (konsistensi), perseverance (keteguhan hati), dan humility (kerendahan hati).

Mengenai kegigihan, Brian berpesan, "Saya titipkan kepada para alumni semua, jangan pernah berhenti mengejar sesuatu." Menurutnya, kunci sukses adalah kemauan untuk terus bergerak. "Semua orang sukses yang saya temui tidak pernah lelah mengejar impiannya," imbuhnya.

Ia juga menyoroti pentingnya bangkit dari kegagalan. "Dan yang paling penting adalah kemampuan untuk bangkit lagi saat gagal. Semua orang pernah jatuh, tapi yang membedakan adalah siapa yang bisa bangkit saat jatuh," tuturnya.

Terakhir, ia meminta lulusan tetap rendah hati dan menghargai sesama. "Jadilah orang-orang yang tidak tinggi hati, jadilah orang-orang yang mudah menghargai orang lain. Ketika kita respect orang lain, di situlah integritas kita akan muncul, kapasitas kita akan terlihat oleh orang lain," jelas Brian.

Sebagai penutup, Brian merangkum filosofi keempat nilai tersebut. "Grit untuk memilih arah, persistence untuk menjaga konsistensi, perseverance untuk bangkit saat gagal, dan humility agar semuanya tidak berubah menjadi kesombongan," ujarnya.

Ia berharap ilmu dari ITB menjadi manfaat bagi publik, bukan sekadar pencapaian pribadi. "Ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti jadi keberhasilan pribadi, tapi harus kembali menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat," katanya. "Selamat kepada wisudawan. Para orang tua dan seluruh masyarakat menanti sumbangsih dari kalian semua," pungkasnya.