Dengan harga tiket yang dibanderol dari 20 hingga 90 yuan (Rp55 ribu-Rp245 ribu), sejauh ini baru beberapa ribu lembar yang berhasil terjual.
CEO perusahaan produksi Bona Film Group Jiang Defu menyadari betul dinginnya respons publik. Kendati demikian, ia berdalih bahwa proyek ini adalah upaya mendobrak batasan.
"Kami adalah yang pertama mencobanya, yang pertama mendapatkan izin rilis teaterikal dan yang pertama diuji oleh penonton," beber Jiang kepada media lokal Yuli. "Saya pikir itu sama sekali tidak mudah."
Iris Yang, salah satu penonton yang hadir di pemutaran pratayang gratis, terang-terangan mengaku enggan merogoh kocek jika harus membayar kualitas seperti itu. Ia baru bersedia beli tiket kalau visual AI-nya sudah bisa menyamai pengalaman teatrikal setara waralaba Avatar.
Hal senada diungkapkan Lilian Gong, penonton berusia 35 tahun yang nekat menonton penayangan perdana di pusat kota Beijing murni karena penasaran.
"Dari segi kualitas, dibandingkan dengan produksi manusia, ini masih kurang," keluhnya kepada AFP.
Menurut Gong, AI saat ini masih sebatas pantas sebagai pemeran pendukung dalam pembuatan film. Ia memprediksi butuh waktu puluhan tahun sampai publik benar-benar rela membayar penuh untuk tontonan AI.