Pada 24 Oktober 2026, Rio juga meluncurkan buku non-fiksi terbarunya, Labirin Cromboloni, di Cucu Betutu, Ubud, yang mengangkat refleksi filosofis melalui berbagai pengalaman sehari-hari, mulai dari perjalanan, persahabatan, hingga pengalaman kehilangan yang dapat menjadi sumber pemaknaan kehidupan.

Buku Labirin Cromboloni menggunakan cromboloni, kreasi pastri yang memadukan croissant dan bomboloni, sebagai metafora perjalanan hidup manusia. Seperti cromboloni yang memiliki lapisan-lapisan khas, kehidupan juga terbentuk dari berbagai pengalaman, keberhasilan, kegagalan, serta peristiwa yang membentuk karakter dan cara seseorang memandang dunia.

Melalui karya ini, Rio menunjukkan pemikiran filosofis tidak selalu harus disampaikan melalui teori yang kompleks, tetapi juga dapat ditemukan dalam pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Melalui Labirin Cromboloni, saya ingin mengajak pembaca melihat bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Ada banyak lapisan pengalaman yang membentuk siapa diri kita hari ini, termasuk hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian. Saya percaya setiap pengalaman memiliki makna, dan melalui karya sastra, kita dapat menemukan cara baru untuk memahami serta memaknai perjalanan hidup," ungkap Rio.

Melalui ketiga program tersebut, Rio menunjukkan karya sastra memiliki ruang yang luas untuk menjangkau berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga komunitas akademisi dan pegiat lingkungan.

Partisipasinya dalam UWRF 2026 sekaligus menegaskan peran penulis Indonesia dalam menghadirkan karya dan gagasan yang tidak hanya memperkaya dunia literasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pendidikan, penguatan kesadaran sosial, dan upaya mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan.