S PowlesMenurut para peneliti, hutan tersebut menjadi semacam "apotek alami" bagi gajah.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports itu tidak menyebutkan nama orang-orang yang diwawancarai.
Identitas para partisipan dirahasiakan agar mereka merasa leluasa menceritakan pengalaman mereka.
Kesaksian mereka mengungkap sejumlah hal menarik. Dalam salah satu kesaksian, seorang petugas pemantau satwa liar mengaku pernah melihat gajah menggunakan tanaman yang dikenal sebagai Angurweet sebagai "obat yang diberikan kepada anak-anak gajah".
Angurweet digunakan sebagai obat untuk mengatasi berbagai keluhan, termasuk sakit perut.
Petugas itu mengatakan pernah melihat induk gajah mencampurkan tanaman tersebut di dalam mulut mereka, dengan "memetik daunnya dan mengunyahnya hingga halus, bersama akar dari beberapa pohon lain".
Dia juga mengatakan pernah melihat induk gajah mencampurkan ramuan tanaman itu dengan susu mereka sendiri.
"Mereka memberikannya kepada anak-anak gajah, yang kemudian mengunyahnya sendiri dan meludahkan bagian yang padat," ujarnya.
Profesor Michael Huffman, ahli primata yang berbasis di Jepang dan kini bekerja di Universitas Nagasaki, mengatakan temuan khusus ini "sangat menarik", tetapi diperlukan lebih banyak bukti untuk membuktikan bahwa gajah memberikan pengobatan khusus kepada anak-anak mereka.
Para ilmuwan telah mulai mengumpulkan bukti tersebut. Mereka membekali para ahli satwa liar setempat yang bekerja bersama mereka dengan kamera untuk merekam perilaku gajah yang mereka amati.
Para peneliti juga menganalisis tumbuhan yang digunakan gajah, untuk mencari kemungkinan adanya obat-obatan baru yang mungkin telah ditemukan oleh gajah itu sendiri.
Fabien SchultzStudi tersebut menemukan 35 jenis tumbuhan berbeda yang dimanfaatkan oleh gajah.
Peneliti utama lainnya dalam proyek tersebut, Dr Fabien Schultz dari Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine di Hamburg, mengatakan kepada BBC News: "Pengetahuan masyarakat setempat telah memberi kami semacam peta."