Artinya, konsumsi listrik dari pusat-pusat data mendadak turun secara bersamaan dalam skala sangat besar. Perubahan beban sebesar itu bisa mengganggu keseimbangan jaringan dan memicu osilasi atau fluktuasi listrik yang lebih sulit diredam.

Kejadian itu memicu lonjakan tegangan jaringan kelistrikan dari Virginia Utara hingga Chicago, menurut data Ting Labs. Memang tak terjadi blackout, tapi membuat lampu-lampu di seluruh wilayah tersebut berkedip. Insiden ini mendemonstrasikan dampak yang dapat ditimbulkan data center terhadap jaringan listrik yang diyakini para ahli akan semakin sering terjadi.

Virginia Utara sendiri merupakan kawasan dengan konsentrasi data center tertinggi di dunia. "Ini bagaikan peringatan dini bahaya," kata Ricardo de Azevedo, CTO di ON.Energy. Menurutnya, peristiwa-peristiwa semacam ini akan jadi hal umum.

Kejadian ini mengingatkan pada insiden serupa dua tahun lalu di Virgina Utara dan dapat menjadi pertanda akan terjadinya peristiwa yang lebih besar jika data center tidak dibangun sedemikian rupa untuk dapat menangani gangguan pasokan listrik dengan lebih baik.

Dalam laporan lain, pertumbuhan data center kemungkinan meningkatkan risiko pemadaman di Philadelphia. Laporan Synapse Energy Economics tersebut menemukan bahwa di 2030, pasokan listrik bisa gagal memenuhi permintaan di jaringan regional rata-rata enam kali setiap 10 tahun. Dalam skenario terburuk, jaringan regional dapat mengalami pemadaman total selama 13 hari per tahun.

"Jika kita terus menambah data center baru, tapi tidak membangun pasokan listrik baru, kita bisa mengalami semacam pemadaman listrik total sebulan sekali rata-rata, yang jelas sangat tidak berkelanjutan dan akan memberikan dampak buruk serius bagi kehidupan kita," kata Abe Silverman, peneliti di Universitas Johns Hopkins yang dikutip NadiKabar dari Tech Crunch, Rabu (14/10/2026).