NADIKABAR.COM — Kekalahan Partai Republik dalam pemilihan umum sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 menghadirkan paradoks politik yang serius. Secara konvensional, kekalahan partai penguasa dalam pemilu legislatif seharusnya mendorong presiden untuk mengevaluasi kebijakan yang tidak populer.

Namun, dalam situasi perang Amerika Serikat-Iran, kekalahan tersebut justru berpotensi memperbesar insentif politik untuk meningkatkan eskalasi militer. Perang yang semula menjadi instrumen kebijakan luar negeri kini berkembang menjadi persoalan kredibilitas kepemimpinan, legitimasi politik, dan kemampuan Presiden Donald Trump dalam mempertahankan pengaruhnya di dalam negeri.

Hasil awal pemilu menunjukkan gelombang kemenangan Partai Demokrat yang jauh melampaui perkiraan sejumlah analis. Laporan Associated Press memproyeksikan Demokrat berhasil merebut mayoritas House of Representatives (DPR AS) dan Senate (Senat AS).

Pada pembaruan penghitungan awal, Demokrat telah memperoleh 222 kursi House, Republik 138 kursi, sementara 75 kontestasi belum diputuskan. Di Senat, Demokrat bersama dua senator independen yang berafiliasi dengan mereka diproyeksikan menguasai setidaknya 54 kursi, dibandingkan dengan 44 kursi Republik, dengan dua kontestasi masih belum diputuskan.

Perubahan ini menandai berakhirnya kontrol Republik atas kedua kamar Kongres dan terbentuknya pemerintahan terbelah (divided government) yang akan mulai bekerja pada Januari 2027.

Skala kekalahan Republik terlihat melalui perubahan dukungan pemilih di berbagai wilayah. Kantor berita Reuters mencatat bahwa Republik kehilangan proporsi suara di sekitar 99% dari 2.100 county yang telah menyelesaikan sebagian besar penghitungan.

Di wilayah tersebut, proporsi suara Republik turun rata-rata 9 poin persentase dibandingkan dengan perolehan Donald Trump pada Pemilu Presiden 2024. Pergeseran lebih tajam terjadi di 64 county mayoritas Latino yang hampir menyelesaikan penghitungan, dengan penurunan proporsi suara Republik mencapai 14 poin persentase.

Kemenangan Demokrat juga menembus wilayah yang selama ini menjadi basis konservatif. Kansas memilih Adam Hamilton sebagai senator Demokrat pertama sejak 1932. Texas memilih James Talarico, mengakhiri dominasi Republik dalam pemilihan Senat selama hampir empat dekade.

South Carolina juga memberikan kemenangan kepada Annie Andrews, sementara Ohio memilih kembali Sherrod Brown. Kekalahan kandidat yang secara langsung didukung Trump memperlihatkan bahwa loyalitas kepada presiden tidak lagi menjadi jaminan kemenangan elektoral.

Hasil tersebut mengindikasikan adanya keterhubungan langsung dengan perang AS-Iran. Reuters melaporkan bahwa hampir 9 dari 10 pemilih menganggap biaya hidup sebagai faktor penting dalam keputusan memilih. Sekitar separuh pemilih memandang pemilu sebagai kesempatan untuk memberikan teguran kepada Trump, sementara 70% menginginkan Kongres memperkuat mekanisme checks and balances terhadap presiden.

Tiga perempat pemilih juga menyatakan kemarahan atau ketidakpuasan terhadap arah negara. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kekalahan Republik bukan sekadar pergantian mayoritas legislatif, melainkan mencerminkan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Trump.

Krisis Legitimasi DomestikPerang Iran menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi politik Trump. Associated Press melaporkan bahwa Presiden Trump mengakui perang selama delapan bulan dan kenaikan harga bensin telah merugikan Partai Republik dalam pemilu. Wakil Presiden JD Vance juga mengaitkan kekalahan tersebut dengan konflik Iran. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa perang tidak lagi dapat dipisahkan dari kalkulasi politik domestik pemerintahan.

Dimensi ekonomi memperkuat persoalan tersebut. Hingga 16 Oktober 2026, biaya perang diperkirakan telah mencapai US$ 47,1 miliar, mencakup penggantian amunisi, biaya operasional, dan peralatan militer yang hilang.

Pentagon juga mencatat 21 personel militer AS tewas dan 865 terluka. Angka korban tersebut mencakup berbagai situasi, sehingga tidak seluruhnya dapat dikaitkan langsung dengan serangan Iran. Namun, besarnya biaya dan korban menunjukkan bahwa konflik telah melampaui gambaran operasi militer singkat yang sebelumnya disampaikan Washington.