Ia berharap, seluruh pemangku kepentingan bisa menyusun mekanisme pembiayaan yang sesuai, sehingga keberadaan rumah sakit kapal dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah yang dilayani.

Direktur Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II Tasia Risma Lidya Simaremare mengatakan kehadiran rumah sakit kapal salah satu bentuk perhatian terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis.

Rumah sakit di bawah naungan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) tersebut, hadir dengan konsep pelayanan bergerak untuk menjangkau masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

"Konsepnya sederhana, ketika masyarakat memiliki keterbatasan untuk datang ke fasilitas kesehatan, maka kami yang datang mendekati masyarakat. Ini menjadi salah satu alternatif untuk membuka akses pelayanan bagi masyarakat yang memiliki kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan," kataa dia.

Ia menjelaskan Nusa Waluya II salah satu di antara empat rumah sakit kapal yang dioperasikan doctorSHARE dalam mendukung pelayanan kesehatan di wilayah DBTFMS

Khusus di Pulau Kei Besar, sejak 8 September 2026 hingga saat ini, RS Nusa Waluya II telah melayani sekitar 3.300 kunjungan masyarakat.

Menurut dia, capaian tersebut tidak dapat dilakukan oleh rumah sakit kapal secara sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar masyarakat di wilayah kepulauan memperoleh akses pelayanan kesehatan yang setara, baik dari sisi keterjangkauan maupun kualitas.

"Ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung kondisi pelayanan kesehatan sekaligus mendengar kebutuhan dan keluhan peserta, khususnya di wilayah DBTFMS. Dari situ, kami dapat melihat layanan apa yang masih dibutuhkan dan bagaimana pelayanan dapat terus diperbaiki," demikian Tasia Risma Lidya Simaremare.