Ia mengatakan, kerugian materi bukan menjadi kekhawatiran terbesarnya. Desta justru mengkhawatirkan dampak psikologis yang dialami kakek dan neneknya akibat kejadian tersebut.
"Kerugian bagi saya pribadi yang paling besar tentu adalah rasa traumatik yang entah akan sembuh kapan, yang terjadi bagi orang tua saya, terutama kakek dan juga nenek saya," tuturnya.
Desta mengungkapkan, dugaan pembakaran tersebut bukan kejadian pertama yang dialami keluarganya. Sekitar 10 hari sebelumnya, pamannya juga diduga mengalami teror pembakaran oleh orang tidak dikenal dengan modus yang disebutnya hampir serupa.
Ia awalnya mengaku tidak melihat hal mencurigakan. Namun, rentetan peristiwa itu membuat DestaΒ merasa sedang menjadi sasaran teror bermotif politik.
"Tidak ada pihak yang spesifik yang bisa saya sebutkan, tapi saya meyakini betul dugaan saya ini karena alasan politis," kata Desta.
Ia menduga teror tersebut berkaitan dengan aktivitasnya menyuarakan keresahan masyarakat, terutama mengenai berbagai persoalan di Kabupaten Bandung.
Meski demikian, dugaan motif politik itu masih merupakan pernyataan korban dan belum menjadi kesimpulan kepolisian.
Dampak kejadian tersebut membuat keluarga berencana meningkatkan kewaspadaan. Desta bahkan mempertimbangkan membawa kakek dan neneknya tinggal sementara bersama dirinya untuk mengantisipasi kemungkinan teror susulan.
Sementara itu, Polsek Pameungpeuk bersama tim Inafis Polresta Bandung telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan barang bukti.
Kapolsek Pameungpeuk AKP Saep Balya mengatakan, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Korban juga telah membuat laporan resmi kepada kepolisian.