"Kalau telur-telurnya oleh pemburu-pemburu telur yang belum punya kesadaran masih tetap dijadikan untuk konsumsi secara pribadi," ucapnya.
Zul mengatakan pihaknya menerima telur penyu yang ditemukan masyarakat untuk ditetaskan. Bagi masyarakat yang menyerahkan telur, pengelola memberikan biaya kompensasi sebagai bentuk penggantian biaya yang dikeluarkan saat menemukan dan mengantarkan telur, bukan melalui mekanisme jual beli telur penyu.
"Kalau menurut aturan itu kan tidak bisa dijual-beli. Tetapi karena mereka menemukannya, tetap kita kasih biaya kompensasi," katanya.
Menurut Zul telur penyu yang diterima rumah konservasi tidak hanya berasal dari kawasan sekitar Alun Utara. Sebagian telur juga berasal dari wilayah Pulau Tikus dan Teluk Sepang Kota Bengkulu. Telur tersebut diserahkan oleh masyarakat yang telah memiliki kesadaran untuk menjaga telur penyu.
Dia mengatakan kondisi populasi penyu di wilayah Bengkulu mulai menunjukkan perkembangan dibandingkan sebelumnya. Pemantauan juga dilakukan bersama nelayan yang berada di sekitar kawasan pesisir.