NADIKABAR.COM — Hujan yang turun sebentar bisa mengubah ritme sebuah kota. Jalan yang semula lancar menjadi sulit dilalui, halaman rumah tergenang, kegiatan usaha tertunda, dan warga harus menghitung ulang waktu untuk berangkat bekerja.
Bagi warga di kawasan rawan banjir di Kota Surabaya, Jawa Timur, ukuran keberhasilan pengendalian air bukanlah seberapa megah bangunan rumah pompa, melainkan seberapa cepat air surut dan seberapa kecil gangguan yang mereka rasakan.
Pemerintah Kota Surabaya menyatakan progres pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pendukung pengendalian banjir telah mencapai 90 persen pada akhir Oktober 2026. Pekerjaan tersebut ditargetkan rampung pada pertengahan November, sebelum curah hujan meningkat pada Desember.
Kawasan yang menjadi perhatian antara lain Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, dan Rungkut.
Kemajuan tersebut memberi harapan, terutama bagi warga yang bertahun-tahun berhadapan dengan genangan. Namun, angka 90 persen masih merupakan ukuran kemajuan pekerjaan fisik, bukan jaminan bahwa sistem langsung mampu mengatasi setiap hujan.