Ia melanjutkan, keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.

"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," ujar Dini.

Sejak 2019, kata Dini, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.