Kendati begitu, pelemahan rupiah berpotensi tertahan sejumlah faktor eksternal pasar global. Mulai dari penurunan harga minyak, melandainya imbal hasil obligasi Pemerintah AS sebesar 1,8 basis poin ke level 4,97 persen, serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Mengutip Anadolu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 1,51 dolar, atau 1,46 persen, menjadi ditutup pada harga 101,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Begitu pula dengan minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember yang turun 91 sen, atau 0,78 persen, menjadi ditutup pada harga 115,81 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.
Terkait The Fed, Bank Sentral AS ini kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan kebijakan moneter pekan ini, tetapi inflasi yang terus meningkat membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka.