NADIKABAR.COM β€” Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa bergerak menguat 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.899 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.917 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) semakin mengecil.

β€œData ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat lebih rendah dari ekspektasi. PCE Price Index tetap berada di level 3,4 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, di bawah konsensus sebesar 3,7 persen yoy.

Adapun data nonfarm payrolls (NFP) AS, sebagaimana laporan Xinhua, bertambah sebanyak 29 ribu lapangan kerja pada bulan September, jauh di bawah perkiraan. Sementara itu, tingkat pengangguran naik 4,2 persen pada September 2026, meningkat dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya.