Namun pada Rabu (23/9), Lavrov mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Moskow tidak akan menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun melawan Ukraina.

"Kami tidak akan menghentikan operasi militer khusus kami," kata Lavrov, seraya menuduh Eropa ingin memanfaatkan penghentian pertempuran untuk "memasok senjata ke rezim Kyiv."

Menlu Ukraina Andriy Sybiga, yang berbicara setelah Lavrov, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa komentar mitranya dari Rusia itu "sudah menjelaskan segalanya."

Ia kemudian menambahkan: "Perang Rusia melawan Eropa bukan lagi perang hibrida. Alih-alih menjaga perdamaian, Rusia justru menyebarkan perang. Itu adalah masalah bagi semua pihak."

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, 51 negara--termasuk Prancis, Inggris, Jepang, dan Kanada--menegaskan kembali dukungan mereka terhadap Ukraina.

"Kami sangat prihatin dengan serangan-serangan di Laut Hitam," kata diplomat tinggi Uni Eropa Kaja Kallas, yang membacakan pernyataan tersebut bersama Menlu Prancis Jean-Noel Barrot dan Sybiga. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Rusia berupaya memutus ekspor biji-bijian Ukraina, serta menyerukan langkah-langkah untuk melindungi pelayaran komersial dan infrastruktur vital.

Rubio juga mendorong Moskow dan Kyiv untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di sektor energi. Meskipun hal ini tidak mengakhiri perang, ia mencatat bahwa langkah tersebut dapat menjadi landasan bagi kesepakatan yang lebih luas.