NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengundang mitranya Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri KTT pemimpin dunia G20 di Miami pada bulan Desember. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio berharap Putin menerima undangan Trump.

Dilansir AFP, Kamis (24/9/2026), langkah ini diambil di tengah upaya Washington untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina, dengan Trump menegaskan bahwa ia sedang bekerja sama dengan kedua belah pihak untuk menghentikan perang.

"Untuk menyelesaikan masalah, Anda harus bertemu dengan orang-orang yang tidak sependapat dengan Anda atau orang-orang yang mungkin memiliki masalah dengan Anda," ujar Rubio kepada wartawan di New York.

"Jadi, kami telah mengundang Presiden Putin ke G20," tambahnya.

"Kami berpendapat ini adalah kesempatan baginya untuk berinteraksi tidak hanya dengan presiden, tetapi juga dengan para pemimpin dunia lainnya. Kami berharap ia akan menerima undangan tersebut," kata Rubio.

Diplomat tinggi AS itu berbicara tak lama setelah pertemuannya dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov di sebuah hotel di New York, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

Pertemuan mereka juga berlangsung menjelang pidato Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dijadwalkan di hadapan PBB. Zelensky diperkirakan akan kembali menyerukan perlunya pertahanan udara yang lebih baik untuk menghadapi gempuran pesawat nirawak (drone) dan rudal Rusia.

Namun pada Rabu (23/9), Lavrov mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Moskow tidak akan menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun melawan Ukraina.

"Kami tidak akan menghentikan operasi militer khusus kami," kata Lavrov, seraya menuduh Eropa ingin memanfaatkan penghentian pertempuran untuk "memasok senjata ke rezim Kyiv."

Menlu Ukraina Andriy Sybiga, yang berbicara setelah Lavrov, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa komentar mitranya dari Rusia itu "sudah menjelaskan segalanya."

Ia kemudian menambahkan: "Perang Rusia melawan Eropa bukan lagi perang hibrida. Alih-alih menjaga perdamaian, Rusia justru menyebarkan perang. Itu adalah masalah bagi semua pihak."

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, 51 negara--termasuk Prancis, Inggris, Jepang, dan Kanada--menegaskan kembali dukungan mereka terhadap Ukraina.

"Kami sangat prihatin dengan serangan-serangan di Laut Hitam," kata diplomat tinggi Uni Eropa Kaja Kallas, yang membacakan pernyataan tersebut bersama Menlu Prancis Jean-Noel Barrot dan Sybiga. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Rusia berupaya memutus ekspor biji-bijian Ukraina, serta menyerukan langkah-langkah untuk melindungi pelayaran komersial dan infrastruktur vital.

Rubio juga mendorong Moskow dan Kyiv untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di sektor energi. Meskipun hal ini tidak mengakhiri perang, ia mencatat bahwa langkah tersebut dapat menjadi landasan bagi kesepakatan yang lebih luas.

Rubio mengatakan kedua belah pihak telah menyatakan minat terhadap gencatan senjata terbatas yang mencakup sektor energi.

Zelensky telah menyampaikan kepada para wartawan bahwa Ukraina siap menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Rusia jika Moskow bersedia melakukan hal serupa, menyusul desakan Trump agar ia berhenti menyerang kilang solar.

Usai bertemu dengan Trump pada Selasa (22/9), Zelensky mengatakan bahwa Washington dan Kyiv menginginkan perang dengan Rusia berakhir "sebelum musim dingin."

Meskipun Presiden AS dan Rusia telah beberapa kali berkomunikasi melalui telepon, pertemuan tatap muka terakhir di antara keduanya terjadi pada tahun 2025.

Dalam pembahasan terpisah mengenai konflik di Timur Tengah, Rubio memperingatkan bahwa hal terakhir yang dibutuhkan Israel maupun kawasan tersebut adalah munculnya krisis baru di Tepi Barat.

"Hal terakhir yang dibutuhkan Israel atau kawasan ini adalah krisis tambahan atau titik gesekan baru; kami memahami situasi tersebut dan itulah yang sedang terjadi," ujar Rubio.