NADIKABAR.COM — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan pelatihan pembuatan kerajinan berbahan serat alam bagi warga binaan pemasyarakatan guna memberikan bekal keterampilan usai menjalani masa pidana.

​Kepala Rutan Kelas IIB Wates Syaiful Anwar di Kulon Progo, Kamis, mengatakan pelatihan kerajinan berbahan serat alam seperti pelepah pisang tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan pihak ketiga CV Kembang Mas.

​"Tujuannya dalam rangka mempersiapkan dan membekali mereka agar saat kembali ke masyarakat memiliki 'skill' dan keahlian. Harapannya, kalau nanti punya usaha sendiri bisa dikembangkan," kata Syaiful.

​Ia mengatakan hasil kerajinan warga binaan tersebut telah dipasarkan secara rutin ke Toko Milik Rakyat (Tomira). Selain kerajinan serat alam, warga binaan juga memproduksi jajanan olahan basreng.

​"Warga binaan yang dilibatkan dalam kegiatan produksi tersebut dipilih melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Mereka yang bekerja juga berhak mendapatkan insentif atau premi," katanya.

​Selain pembekalan kemandirian, Rutan Wates juga meluncurkan program pembinaan kepribadian kerohanian bertajuk "Pro Mangkaji" atau Program Mari Mengaji yang wajib diikuti seluruh warga binaan.

​"Program wajib ngaji ini tanpa terkecuali, ada absensi mulai dari tingkatan Iqro hingga materi shalat. Paling tidak saat bebas nanti, minimal mereka tahu bacaan kalimat syahadat," ujarnya.

​Syaiful menambahkan pengajar program mengaji melibatkan petugas rutan serta warga binaan yang berstatus santri. Program tersebut juga mendapatkan apresiasi dari Kementerian Agama setempat.

​Sementara untuk memenuhi hak komunikasi warga binaan sekaligus mencegah penyalahgunaan telepon seluler secara ilegal, Rutan Kelas IIB Wates menyediakan fasilitas warung telekomunikasi khusus pemasyarakatan (wartelsuspas) sebanyak enam kamar bicara umum (KBU).

​"Fasilitas Wartelsus ini legal, bekerja sama dengan vendor resmi dan memberikan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Layanan ini dibuka hampir setiap hari agar mereka bisa berkomunikasi maupun 'video call' dengan keluarga, namun tetap dilengkapi sistem penyadapan untuk pengawasan," katanya.