Pendampingan itu berjalan beriringan dengan penanganan medis. Tri tetap menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala dan menjalani hemodialisis dua kali setiap pekan.
Bagi Tri, dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam prosesnya untuk kembali bangkit. Perlahan, ia mulai berani menjalani aktivitas sehari-hari tanpa selalu mengandalkan bantuan orang lain.
Kini, ruang geraknya pun semakin luas. Ia sudah kembali menikmati aktivitas di luar rumah, termasuk bepergian dan berjalan-jalan.
"Pokoknya dibuat senang saja. Jalan-jalan ke mal. Sekarang saya bahkan sudah punya usaha sendiri, berjualan kue sampai terima jastip barang luar negeri," ujar Tri kepada NadiKabar, Jumat (4/9/2026).
Perubahan itu menjadi capaian tersendiri bagi Tri. Di tengah kondisi kesehatan yang masih mengharuskannya menjalani cuci darah, ia memilih untuk tetap produktif dan membangun kemandirian.
Bripka Rusmanto menekankan bahwa pendampingan mental dan spiritual yang dilakukannya tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis.