"Air itu sangat penting. Bagi kami sudah seperti emas. Bayangkan saja Mas, padi kami sempat keriting daunnya karena kemarau," ujarnya.

Bersama anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Jaya, Mashudi mengelola lahan sekitar 90 hektare. Sebagian besar sawah mengandalkan air hujan sehingga rentan terdampak anomali iklim.

Salah satu sumber pengairan di desa tersebut adalah embung seluas sekitar 4,5 hektare yang melayani 60 hektare lahan. Embung itu memiliki kapasitas tampung 70.400 meter kubik dengan tinggi muka air sekitar 1,56 meter.