Namun, kebocoran yang berlangsung selama sekitar tiga tahun mengurangi fungsi embung. Debit air terus menyusut sehingga pasokannya tidak lagi mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
Cadangan air mulai berkurang tajam sejak Juni 2026 dan mencapai kondisi terburuk pada Juli. Saat itu, tinggi muka air embung hanya tersisa sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Distribusi air pun harus digilir setiap empat hari dengan jumlah terbatas untuk sawah-sawah di sekitarnya.
Pasokan air dari arah kawasan Giwangan yang berjarak sekitar 18 kilometer juga tidak mampu mengisi embung karena debit sungai terlalu kecil untuk menjangkau lokasi tersebut.