Pengalaman pandemi seharusnya tidak hanya meninggalkan kebiasaan menggunakan disinfektan, tetapi juga meningkatkan pemahaman tentang pencegahan penyakit yang berbasis ilmu pengetahuan.

Kita perlu meninggalkan dua pandangan yang sama-sama keliru. Pertama, anggapan bahwa semua mikroorganisme berbahaya sehingga harus dihilangkan. Kedua, keyakinan bahwa paparan terhadap lingkungan kotor dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Keduanya mengabaikan kompleksitas hubungan manusia dengan mikroorganisme.

Pendekatan yang lebih tepat adalah menerapkan kebersihan berdasarkan risiko. Perlindungan diperkuat ketika potensi penularan tinggi, sementara interaksi normal dengan lingkungan tetap berlangsung tanpa ketakutan yang berlebihan.

Dalam konteks yang lebih luas, kesehatan tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan dan kesiapan sistem pelayanan publik. Tubuh yang sehat membutuhkan dukungan air bersih, pangan aman, sanitasi memadai, gizi seimbang, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi dunia yang tidak selalu bersih bukan berarti membiasakan tubuh hidup dalam kondisi kotor. Kesiapan tersebut justru dibangun melalui pengetahuan yang benar, perilaku pencegahan yang tepat, dan sistem kesehatan masyarakat yang mampu bekerja ketika kondisi ideal tidak tersedia.

Kita tidak membutuhkan dunia yang sepenuhnya steril. Kita membutuhkan lingkungan yang aman, masyarakat yang memahami risiko, dan sistem kesehatan yang siap menghadapi krisis.

Sebab, ketika dunia tak lagi bersih, yang menentukan bukan hanya kemampuan tubuh menghadapi lingkungan, melainkan juga kemampuan kita menjaga kesehatan bersama.

Wilfadri Putra Jonesti. Dosen Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta.