Ia juga mengajak penonton untuk kembali menyadari apa yang dimiliki dan merawatnya. Gagasan tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap sejarah ketika kekayaan alam menjadi alasan kedatangan bangsa asing ke Nusantara.
Ocky menggambarkan pesan itu melalui ajakan agar masyarakat tidak kehilangan kendali atas apa yang dimilikinya sendiri.
"Untuk kita, mari kita rawat yang kita punya. Mari jadi raja dan ratu yang pandai merawat kerajaannya sendiri," ucapnya.
Menurutnya, masyarakat tetap bisa membuka diri kepada pihak luar. Namun, hubungan tersebut semestinya berlangsung secara adil dan tidak kembali menempatkan masyarakat sebagai pihak yang hanya menyediakan sumber daya.
Selain membawa isu ekonomi dan sejarah, pertunjukan tersebut juga mengajak penonton mengingat kembali cara manusia memperlakukan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh.
Prosesi penyuguhan menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Bagi Ocky, makanan dan minuman seharusnya tidak diperlakukan secara sembarangan karena berkaitan langsung dengan tubuh manusia.
Ia menilai perkembangan teknologi dan ritme kehidupan yang semakin cepat membuat manusia terkadang melupakan perhatian terhadap hal-hal sederhana, termasuk proses menyiapkan dan menikmati makanan atau minuman.
"Prosesi penyuguhan ini juga menjadi bahwa kami masih meyakini sesuatu yang masuk ke dalam perut itu harus dipersiapkan benar-benar," ujarnya.
Melalui pertunjukan Dapur, kopi dan rempah akhirnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang sekadar disajikan untuk diminum. Keduanya menjadi medium untuk membawa penonton menyusuri hubungan tim redaksi dapur, sejarah, perdagangan, kesenian, hingga cara manusia merawat apa yang dimilikinya.