Embung Doho berdiri di atas lahan perbukitan dengan luas 1,5 hektare. Embung tadah hujan berkedalaman empat meter dengan daya tampung 15.872 meter kubik ini dirancang mampu menangkap limpahan air hujan saat musim hujan untuk disimpan sebagai tabungan strategis menghadapi musim kering.

Struktur dasarnya dilapisi geomembran khusus berkekuatan 30 tahun yang memungkinkan lumut tetap tumbuh subur untuk menjaga kualitas air tetap sehat bagi ekosistem pertanian di sekitarnya.

Wajah pertanian di hamparan sawah seluas 21 hektare pun berubah. Lahan yang dahulunya mati suri saat kemarau, kini tetap berdenyut hijau berkat peralihan pola tanam menuju komoditas palawija dan padi gogo yang hemat air.

Lebih dari 300 petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun di Desa Doho kini memiliki kepastian pasokan air untuk menyelamatkan tanaman mereka dari ancaman gagal panen. Petak-petak ladang yang dahulu dibiarkan gersang, kini mampu menghasilkan panen yang berkesinambungan sepanjang tahun.

Kepala Desa Doho Agus Suwatono yang ditemui di desanya itu, Jumat (7/10), menerangkan bahwa keberadaan embung menjadi penyelamat pada masa-masa kritis peralihan musim, khususnya sekitar Maret - April. Pada rentang waktu tersebut, air embung digelontorkan penuh ke jaringan irigasi desa untuk menyuplai tanaman padi yang sedang bunting (meteng) menjelang pembentukan bulir gabah.