Dengan terjaganya pasokan air, maka produktivitas panen petani terdongkrak hingga 30 persen, di tengah ketidakpastian iklim saat ini hasil panen yang biasanya berkisar 15 karung meningkat menjadi 20 - 30 karung atau mencapai 1,8 ton (per karung 60 kilogram) gabah kering panen.

Selain kenaikan produktivitas, ketersediaan air juga memungkinkan penambahan siklus tanam dari yang biasanya hanya dua kali setahun kini bisa mencapai tiga kali setahun.

Dari tujuh kelompok tani yang tersebar di tujuh dusun, sekitar 60 kepala keluarga petani yang menikmati manfaat langsung dari keberadaan embung. Bahkan, masyarakat setempat bisa memenuhi kebutuhan dapur dari pasokan air yang ada.

Pasokan air berkala ini menjadi sangat vital mengingat karakteristik lahan pertanian di lereng perbukitan Doho berkontur miring (siring), sehingga air siraman cepat meresap dan hilang jika tidak dialirkan secara cermat, termasuk ke tanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah, dan ubi-ubian yang juga dibudidayaan warga.

Kunci keberhasilan distribusi air dari Embung Doho bertumpu pada keteguhan kearifan lokal yang dijalankan oleh Legiman, seorang subak atau penata aliran air yang dipercaya oleh warga desa.