"Inti jurusnya mah cuman lima, yang disebut Jurus Lima Sabandar Karimadi. Cuman dipecah dari lima itu jadi 24 jurus, ngambil dari yang lima itu," paparnya.
Dipercaya sebagai murid andalan untuk melebarkan sayap perguruan, Abah Ateng membawa panji Sabandar Karimadi melesat jauh menembus kota-kota besar di luar wilayah pesisir.
"Kalau dihitung dari tahun 80-an, murid binaan kayaknya sudah ribuan kalau dikumpulkan. Dari perguruan Abah Uci, yang melebarkan sayap ke berbagai wilayah itu Abah. Buka perguruan sampai ke luar, cabang ke Bogor, bahkan sampai ke Jakarta di daerah Kalideres," ungkapnya.
Kini, para guru perintis telah berpulang dan Abah Ateng menjadi figur kasepuhan utama. Menjelang milangkala perguruan yang jatuh setiap bulan Maulid, ia tetap merawat tradisi musyawarah bersama para murid senior.
"Alhamdulillah, saya tidak bisa jalan sendiri tanpa bermusyawarah sama senior-senior saya. Untuk milangkala, hasil musyawarah sudah disepakati hari Sabtu malam Minggu, tanggal 16 malam 17 Maulid," kata Abah Ateng.
Di sisa usianya, Abah Ateng menitipkan amanah besar agar napas perguruan ini pantang padam ditelan zaman modern.
"Saya mohon sama senior-senior dan generasi penerus, semoga peduli untuk mempertanggungjawabkan atau mengembangkan seni budayanya, diwarisi ke generasi-generasi kita. Intinya jangan sampai terhenti di sini, terus berlanjut sampai titik umur," tegas Abah Ateng.