Konsumen lebih memilih untuk mempertahankan ponselnya lebih lama dan tidak buru-buru upgrade, sambil mempertimbangkan perangkat rekondisi. Sementara itu vendor memprioritaskan profitabilitas dengan memangkas produksi, menyesuaikan portofolio, dan fokus ke perangkat premium.
"Q3 adalah kuartal kedua berturut-turut yang merasakan dampak penuh krisis memori. Kelangkaan memori yang ekstrem mendorong pasar smartphone ke fase yang lebih selektif, mengubah strategi OEM dan bahkan perilaku konsumen," kata Senior Analyst Counterpoint Shilpi Jain dalam laporannya.
"Hal ini menciptakan tekanan yang lebih besar di pasar massal, sementara permintaan premium tetap relatif kuat, memperlebar kesenjangan antara segmen premium dan segmen yang sensitif terhadap harga," sambungnya.