NADIKABAR.COM — Perusahaan teknologi asal Korea Selatan, Samsung, mungkin memangkas produksi ponsel pintar di kuartal keempat 2026 sekitar 20-30 persen dari target awalnya akibat biaya komponen yang terus meroket.
Laporan Gizmochina, Jumat (9/10) waktu setempat, mengungkap bahwa meski angka penjualan ponsel pintarnya menguat dalam beberapa kuartal terakhir namun ternyata penjualan tersebut tidak memberikan keuntungan.
Bisnis ponsel pintar Samsung disebut tidak berpengaruh signifikan dan justru biaya komponennya terus melambung tinggi khususnya untuk RAM dan memori penyimpanan.
Tidak hanya Samsung, sebenarnya masalah ini merupakan masalah yang dialami semua produsen ponsel pintar dan mereka memang sulit mempertahankan profitabilitas.
Langkah ini memang belum diambil oleh Samsung, namun ini adalah proyeksian terbaru. Proyeksi itu muncul karena Samsung harus membayar sekitar 145 dolar AS (sekitar Rp2,5 jutaan) per chip untuk RAM LPDDR5X 12GB di tahun ini.
Biaya tersebut setara dengan peningkatan 175 persen untuk komponen serupa dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.
Jika langkah pemangkasan produksi diambil, maka dari target awal Samsung yang menginginkan produksi ponsel pintar mencapai 270 juta di 2026 bisa menjadi sekitar 200 juta saja.
Kenaikan harga komponen juga mungkin dirasakan langsung oleh para konsumen ponsel pintar. Samsung di tahun ini sudah meluncurkan dua seri unggulannya yaitu seri Galaxy S26 dan seri Galaxy Z8.
Keduanya mengalami peningkatan harga yang signifikan, bahkan setelah harga perilisannya naik tidak lama harganya kembali naik lagi hingga 100 dolar AS (sekitar Rp1.7 jutaan).
Tidak hanya rilisan anyar, ponsel-ponsel rilisan sebelumnya termasuk ponsel mid-range turut terimbas dengan kenaikan harga.
Meski permintaan ponsel pintar dari Samsung terbilang tinggi, namun ternyata divisi ponsel Samsung masih kesulitan untuk mencetak keuntungan.
Perjuangan ini pun terlihat tak akan segera berakhir, karena secara global kenaikan harga komponen memori untuk kuartal ketiga 2026 diperkirakan akan kembali naik lagi sebesar 20 persen dan mencapai 180 dolar AS (sekitar Rp3,2 jutaan) untuk satu kepingnya.
Di sisi positifnya, lini bisnis Samsung yang lain dapat mencatatkan keuntungan rekor dari bisnis chip memorinya. Divisi DS, yang bertanggung jawab atas chip memori dan semikonduktor, membukukan laba operasi triwulanan terbesar sebesar 53,7 triliun won Korea pada kuartal pertama tahun 2026.
Pada kuartal kedua tahun 2026, laba operasional dari divisi DS meningkat tajam menjadi angka yang mencengangkan, yaitu 89,2 triliun won Korea, melampaui NVIDIA dan menjadi perusahaan teknologi paling menguntungkan pada kuartal tersebut.
Untuk kuartal ketiga, divisi DS Samsung diperkirakan telah melampaui laba operasional lebih dari 100 triliun won Korea.
Penerjemah: Livia Kristianti